International Hijab Solidarity Day (IHSD) yang jatuh pada tanggal 4 September merupakan hari peringatan kepada para muslimah, bahwa banyak saudara-saudara muslimah kita dibelahan bumi yang lain tidak bisa memakai jilbabnya dengan tenang, ada larangan dari pemerintah, ada pandangan yang buruk terhadap perempuan berjilbab, dll.
Alhamdulillah, di Indonesia kita tercinta dengan ragam budaya sudah ramah dengan jilbab sendiri. Polisi wanita, karyawan biasa, siswi SMA, pegawai negeri, sudah banyak yang berjilbab. Tapi tau nggak sih, di balik itu semua ada perjuangan para pendahulu yang memperjuangkan helai kain penutup kepala ini.
Pada saat itu peraturan tentang seragam sekolah masih kaku, jilbab tidak sesuai dengan seragam sekolah, ia dianggap merupakan lambang dari kelompok politik atau gerakan tertentu yang akan mengganggu stabilitas politik dan ekonomi yang sedang diprogram pemerintah. Pada saat itu siswi berjilbab banyak menjadi korban karena tidak diperbolehkannya jilbab, bisa dipindah sekolah, skors, atau 'cuma' sindiran. Pada '90an pemakai jilbab di instusi pendidikan sudah mulai marak, namun beberapa halangan masih ada seperti dilarang memakai jilbab atau harus menampakkan telinga ketika foto ijazah. Karena ancaman susah mendapat perguruan tinggi atau susah mendapat pekerjaan, ada yang akhirnya ada tidak berjilbab ketika berfoto. Mendaftar pekerjaanpun membutuhkan kekuatan iman dan mental bagi pemakai jilbab, tentu saja banyak penolakan atau perintah melepas jilbab jika ingin bergabung di perusahaan ini itu.
Kalau dilihat di Indonesia saat ini, walaupun masih ada institusi yang tidak memperbolehkan jilbab, tapi secara umum sudah lebih baik daripada tahun-tahun yang lalu. Kalau udah ada lingkungan yang mendukung, pekerjaan mendukung jilbab, jilbab dengan berbagai bahan dan cara pakai masihkah ada alasan untuk nggak belajar pakai jilbab dengan benar?
Alhamdulillah, saya merasakan mudahnya memakai jilbab sekarang ini. Bahkan ketika foto ijazahpun, jilbab yang saya pakai masih bisa mengulur, bukan yang dililit di leher. Di Olimpiade Rio 2016 kemarin bahkan ada atlet yang berani berhijab.
Ketika kita di beri keleluasaan untuk berjilbab, #YukBerhijab dan jangan lupa beri dukungan terhadap saudara-saudara kita yang belum bisa berjilbab dengan terus menebar kebaikan, membuktikan bahwa Islam adalah agama yang damai dan penuh rahmat. Semoga jilbab menjadi hal yang akrab dan diterima dimanapun ya..
Nb. Tulisan ini bersumber dari bacaan penulis dan pengalaman pribadi :)
Minggu, 04 September 2016
Rabu, 24 Agustus 2016
Menengok Saudara Primata di Waduk Jatibarang dan Goa Kreo
Mari kita mampir ke destinasi wisata di pinggiran Kota Semarang, tepatnya jalan menuju arah Boja, Kabupaten Kendal!
Di sekitar Waduk Jatibarang dan Goa Kreo ini banyak banget monyet, menurut legenda yang tertulis disana keberadaan monyet-monyet itu berhubungan dengan Sunan Kalijaga yang sedang mencari kayu untuk dijadikan soko (tiang) masjid, namun tiga monyet yang membantu mengalirkan kayu ke tempat tujuan (aku lupa kemana) tidak boleh ikut lebih jauh. Ketiga monyet yang mempunyai warna berbeda ini diberi amanah untuk menjaga saja. Jadilah, di tempat ini banyak didirikan patung-patung monyet.
Kalau kamu bermukim di Semarang, teriknya matahari dan ributnya lalu lintas mungkin benar-benar susah dihindari. Tapi bersyukurlah, karena di sekitar Semarang itu lumayan banyak destinasi wisata yang bisa mengobati hari-hari lelahmu. Seperti di sini..
![]() |
| Waduk Jatibarang |
Biaya masuk ke area wisata ini super murah, saya dan seorang teman cukup membayar Rp 6000,00 include biaya parkir! Dan kabar baik untuk teman-teman yang belum pernah mengunjungi, area ini sedang dalam tahap renovasi jadi kedepannya pasti lebih baik lagi kan. Lahan parkir luas, dan muat buat bus besar, ada musola, toilet, dan area jual makanan.
Suguhan pemandangan pertama adalah jembatan oranye yang cakep kontras sama warna hijaunya bukit dan birunya air. Jangan lupa foto-foto ya, tapi harus hati-hati sama monyet yang kadang suka ngerebut benda-benda yang kita pegang, terutama kalau kita bawa makanan. Juga waspada sama poop monyet yang betebaran hihi. Setelah jembatan baru mulai Goa Kreo nampak, saya kurang tertarik sejujurnya, karena kita cuma bisa melihat mulut gua. Di dalam gua tidak ada penerangan, dan ketika saya mencoba flash hanphone itu bener-bener nggak ngaruh, tetep gelap. Jadi saya meninggalkan gua yang dingin dan (sepertinya) rapuh sendirian. Lanjut jalan naik bukit, dan sampai atas pemandangannya cantik banget :)
Siapkan fisik ya kalau kamu mau bener-bener mengeksplor kawasan wisata ini, sebab track yang panjang dan naik turun cukup membuat lelah gumpalan lemak yang nggak pernah olahraga seperti saya ini.
Namun, sangat disayangkan seperti biasa banyak tempat wisata di Indonesia yang nggak bersih. Sampah bececeran padahal udah disediakan tempat sampah lho, adapula coretan-coretan yang nggak nyeni di mana-mana. Kalau udah gini kita mau nyalahin siapa? Tempat wisata itu milik kita juga, jadi kita harus jaga kebersihan, jangan hobi nyampah, plus perbuatan vandal lainnya. Sehingga keindahan itu terjaga lama, anak turun kita masih bisa menikmati. yey
Senin, 04 Januari 2016
Hari Pertama 2016
Udah pernah dengar belum Pantai Sadeng di Gunungkidul,
Jogjakarta?
Tanggal 1 Januari 2016, ketika matahari masih hangat, Bapak
mengajak buat pergi sarapan, tapi bilang suruh bawa bekal minum sama makanan
ringan plus mukena. Saya nggak yakin bakal pergi jauh, bisa jadi Bapak
tiba-tiba unmood lalu habis sarapan balik lagi ke rumah. ß kejadian kaya gitu
kerap terjadi -__-.
Setelah sarapan semangkuk besar Soto Lamongan, kami
memutuskan berkendara ke arah Wonogiri karena jalanan Kota Solo sepi, tapi kita
nggak tau mau kemana.
Saya lagi pengen makan ikan yang masih seger, terserah mau
ikan air tawar apa air laut. Nah, disekitar waduk Gajah Mungkur biasanya banyak
yang jual ikan, dari yang kecil-kecil sekuku sampai sebesar paha orang dewasa,
tapi kalau masih pagi gini belum ada orang yang jual, apalagi ini tahun baru,
mungkin orang-orang masih lelap pasca pesta-pesta semalam.
Lalu Bapak lanjut nyetir ke arah Pacitan. Tiba-tiba saya
keinget sama Museum Karst Indonesia, dari pada ke Pacitan jauh-jauh ya. Mobil
puter balik ke arah Pracimantoro.
Waktu nyari-nyari dimana museum karst berada, kami lihat
plang Pantai Sadeng. Masuklah kita, perjalanan ini kita di suguhi pemandangan
yang unik, gimana pohon-pohon jati daunnya habis dimakan ulat jati. Saking
banyaknya ulat jati, banyak ulat hitam ini yang jatuh dan pecah mengenai kaca
mobil, hiiyyy.
Pantai Sadeng itu kecil, lebih terkenal karena pelelangan
ikannya. Harga ikannya murah, ikan Tuna Cuma 20k sekilo, ikan cakalang 17k. Ada
pula cumi-cumi, lobster, ikan kecil-kecil. Ikannya masih seger, cara milih ikan
itu bisa dilihat dari dalam insangnya masih merah, dan matanya ikan bening. Ibu
beli ikan tuna sampai sepuluh kilo kali ya, untuk dibagi-bagi sama tetangga.
Habis puas makan, minum, dan foto-foto. Kami balik lagi, mau
nyari Museum Karst. Tapi… ternyata ketika kami nanya, Museum Karst sudah
kelewatan jauh. Oke, liburan di Museum lain kali ya.
Kamis, 17 Desember 2015
Melindungi Diri dari Sunburn
Jalan jalan ke pantai atau naik gunung emang paling asik, tapi abis itu wajahnya terbakar. Memerah, hitam, bahkan bisa sampai mengelupas. Saya punya pengalaman buruk dengan paparan sinar matahari berlebihan.
Jaman dulu ketika saya nggak peduli sama kesehatan, saya pernah seharian (benar-benar seharian) dari pagi matahari terbit sampai terbenam main di pantai. Asik banget, kalau dipantai kan memang nggak terasa panas, tapi sampai rumah wajahku yang hitam ini makin menghitam, kemerahan, kering bersisik :((
Sengatan sinar matahari secara terus menerus dalam jangka panjang dapat menyebabkan noda hitam bahkan bisa menyebabkan kanker kulit! Jadi untuk menghindari itu semua, pakai sunblock yang berkode sun protection factor (SPF) yang hanya melindungi dari sinar UVB yang biasanya bikin sunburn. Besarnya, seperti SPF 15 atau SPF 30 adalah kekuatan melindungi contohnya nih:
Untuk meminimalkan paparan sinar matahari bisa juga pakai payung, baju panjang, dan topi. Jadi emang nggak bagus terkena matahari langsung terutama diatas pukul 10 pagi. Apalagi lapisan ozon bumi kita makin tipis, jadi filter alami dari UVA dan UVB udah nggak terlalu kuat.
Kita bisa lihat seberapa kuat sengatan sinar matahari di daerah kita dalam waktu tertentu lewat UV index, berapa besarnya bisa dilihat di petunjuk cuaca yang bisa di install di smartphone. Makin tinggi makin bahaya, dan harus pakai perlindungan ekstra atau bahkan harus menghindari sinar matahari.
Kalau memang udah terlanjur terbakar, saya biasanya pakai tomat atau lidah buaya yang langsung diusap pada wajah yang terbakar. Lalu tunggu sampai kering lalu bilas pakai air dingin, nanti wajahnya jadi lebih dingin dan mengurangi kemerahan. Jadi jangan males pakai sunscreen ya, baik cowok atau cewek! CMIIW ^^
Jaman dulu ketika saya nggak peduli sama kesehatan, saya pernah seharian (benar-benar seharian) dari pagi matahari terbit sampai terbenam main di pantai. Asik banget, kalau dipantai kan memang nggak terasa panas, tapi sampai rumah wajahku yang hitam ini makin menghitam, kemerahan, kering bersisik :((
Sengatan sinar matahari secara terus menerus dalam jangka panjang dapat menyebabkan noda hitam bahkan bisa menyebabkan kanker kulit! Jadi untuk menghindari itu semua, pakai sunblock yang berkode sun protection factor (SPF) yang hanya melindungi dari sinar UVB yang biasanya bikin sunburn. Besarnya, seperti SPF 15 atau SPF 30 adalah kekuatan melindungi contohnya nih:
- SPF 15 kemampuan proteksi 93,3% terhadap sinar UVB
- SPF 30 kemampuan proteksi 96,7% terhadap sinar UVB
- SPF 50 kemampuan proteksi 98% terhadap sinar UVB
Untuk meminimalkan paparan sinar matahari bisa juga pakai payung, baju panjang, dan topi. Jadi emang nggak bagus terkena matahari langsung terutama diatas pukul 10 pagi. Apalagi lapisan ozon bumi kita makin tipis, jadi filter alami dari UVA dan UVB udah nggak terlalu kuat.
Kita bisa lihat seberapa kuat sengatan sinar matahari di daerah kita dalam waktu tertentu lewat UV index, berapa besarnya bisa dilihat di petunjuk cuaca yang bisa di install di smartphone. Makin tinggi makin bahaya, dan harus pakai perlindungan ekstra atau bahkan harus menghindari sinar matahari.
![]() |
| contoh UV index |
Kalau memang udah terlanjur terbakar, saya biasanya pakai tomat atau lidah buaya yang langsung diusap pada wajah yang terbakar. Lalu tunggu sampai kering lalu bilas pakai air dingin, nanti wajahnya jadi lebih dingin dan mengurangi kemerahan. Jadi jangan males pakai sunscreen ya, baik cowok atau cewek! CMIIW ^^
Selasa, 27 Oktober 2015
Pengalaman Pertama: Arung Jeram
Pertengahan Agustus yang terik, saya dan kawan-kawan masa SMP yang sudah terpencar di beberapa kota untuk menuntut ilmu,menyempatkan diri berkumpul, main bareng, seperti tahun-tahun yang lalu.
Kita ngobrol lewat grup chat dan disepakati mengarungi Sungai Elo, Magelang! itu pengalaman pertama rafting untuk hampir semua orang di antara kami.
Kita pergi dengan mobil dan driver sewaan, harga total dengan bahan bakarnya habis 450k. dari Solo ke Magelang bolak balik. Nggak begitu mahal apalagi kita patungan bertujuh.
Kita langsung menuju starting point di Desa Pare, Kelurahan Mungkid, tapi karena kita nggak pesan dulu kita nggak bisa langsung nyebur. Kita diarahkan ke agen yang letaknya nggak jauh dari situ. Ada beberapa restoran yang juga agen menawarkan harga yang berbeda. Kebanyakan sudah menawarkan paketan, selain service buat arung jeram kita dapet snack sama makan besar juga.
Ingat ya, lebih baik kalian bawa rombongan yang jumlahnya kelipatan 6. Kami bertujuh nggak bisa ada di satu boat, kita udah merajuk dan merayu *apaini* demi bersama dalam satu boat, sekaligus ngirit biar nggak usah sewa dua boat hehehe. Tapi apa daya tetap nggak dibolehin dengan alasan keamanan. ya sudahlah..
Kami menyewa dua boat seharga Rp 1.200.000,00 dan masing-masing boat seharga Rp 600.000 nggak bisa ditawar lagi huhuhu :( . Tapi jiwa-jiwa pengiritan kami tetap bekerja dengan meminta disediakan paket makanan dengan porsi 12 orang! (lumayan buat jatah makan driver)
Dari restoran kami dibawa ke starting point dengan mobil angkot. Setelah sampai, sembari menunggu boat disiapkan kami diberikan pengarahan gimana mengarungi jeram dengan aman. Kami praktek bagaimana menggunakan dayung, posisi duduk, dll.
Setelah itu kami langsung naik boat, disiram-siram dulu kami beserta boatnya sama Bapak-bapak pemandu, katanya nggak afdol kalau nggak basah.
Kami menyusuri Sungai Elo yang airnya menyusut karena kemarau, warnanya hijau, tapi cantik dipadukan dengan dinding-dinding sungai yang coklat dan daun disekitar. Ada beberapa anak-anak bermain air, dengan ban bekas berenang di pinggir sungai, seru melihatnya.
Menurutku serunya arung jeram cuma pas di jeramnya, kalau pas bagian di sungai yang tenang nggak memacu adrenalin. Tapi enaklah buat pemula. Hampir tiga jam sebelum kami sampai di titik finish, di tengah perjalanan mengarungi sungai kami berhenti untuk menikmati snack dan es kelapa yang disediakan. Kami dapat snack kering, padahal menurut penuturan temanku dulu dia dapat jajanan pasar.
Sepanjang sungai elo kita diberi kejutan-kejutan oleh pemandu kami yang ramah, menambah keseruan di atas boat merah kami :))
Lelah banget sebenarnya, tapi bukan lelah karena serius yang ndayung tapi lelah ketawa, sepanjang sungai cuma ketawa sama bercanda mulu. Kebayangkan, arung jeram disini nggak berbahaya kok asal nurut sama instsrukturnya
Puas kami menyusuri Sungai Elo, kami kembali ke restoran, mandi, makan besar lalu pulang.
Kamar mandinya banyak dan bersih jadi nggak perlu takut antri.
Kita ngobrol lewat grup chat dan disepakati mengarungi Sungai Elo, Magelang! itu pengalaman pertama rafting untuk hampir semua orang di antara kami.
Kita pergi dengan mobil dan driver sewaan, harga total dengan bahan bakarnya habis 450k. dari Solo ke Magelang bolak balik. Nggak begitu mahal apalagi kita patungan bertujuh.
Kita langsung menuju starting point di Desa Pare, Kelurahan Mungkid, tapi karena kita nggak pesan dulu kita nggak bisa langsung nyebur. Kita diarahkan ke agen yang letaknya nggak jauh dari situ. Ada beberapa restoran yang juga agen menawarkan harga yang berbeda. Kebanyakan sudah menawarkan paketan, selain service buat arung jeram kita dapet snack sama makan besar juga.
Ingat ya, lebih baik kalian bawa rombongan yang jumlahnya kelipatan 6. Kami bertujuh nggak bisa ada di satu boat, kita udah merajuk dan merayu *apaini* demi bersama dalam satu boat, sekaligus ngirit biar nggak usah sewa dua boat hehehe. Tapi apa daya tetap nggak dibolehin dengan alasan keamanan. ya sudahlah..
Kami menyewa dua boat seharga Rp 1.200.000,00 dan masing-masing boat seharga Rp 600.000 nggak bisa ditawar lagi huhuhu :( . Tapi jiwa-jiwa pengiritan kami tetap bekerja dengan meminta disediakan paket makanan dengan porsi 12 orang! (lumayan buat jatah makan driver)
Dari restoran kami dibawa ke starting point dengan mobil angkot. Setelah sampai, sembari menunggu boat disiapkan kami diberikan pengarahan gimana mengarungi jeram dengan aman. Kami praktek bagaimana menggunakan dayung, posisi duduk, dll.
Setelah itu kami langsung naik boat, disiram-siram dulu kami beserta boatnya sama Bapak-bapak pemandu, katanya nggak afdol kalau nggak basah.
Kami menyusuri Sungai Elo yang airnya menyusut karena kemarau, warnanya hijau, tapi cantik dipadukan dengan dinding-dinding sungai yang coklat dan daun disekitar. Ada beberapa anak-anak bermain air, dengan ban bekas berenang di pinggir sungai, seru melihatnya.
Menurutku serunya arung jeram cuma pas di jeramnya, kalau pas bagian di sungai yang tenang nggak memacu adrenalin. Tapi enaklah buat pemula. Hampir tiga jam sebelum kami sampai di titik finish, di tengah perjalanan mengarungi sungai kami berhenti untuk menikmati snack dan es kelapa yang disediakan. Kami dapat snack kering, padahal menurut penuturan temanku dulu dia dapat jajanan pasar.
Sepanjang sungai elo kita diberi kejutan-kejutan oleh pemandu kami yang ramah, menambah keseruan di atas boat merah kami :))
Lelah banget sebenarnya, tapi bukan lelah karena serius yang ndayung tapi lelah ketawa, sepanjang sungai cuma ketawa sama bercanda mulu. Kebayangkan, arung jeram disini nggak berbahaya kok asal nurut sama instsrukturnya
Puas kami menyusuri Sungai Elo, kami kembali ke restoran, mandi, makan besar lalu pulang.
Kamar mandinya banyak dan bersih jadi nggak perlu takut antri.
![]() |
| di starting point |
![]() |
| ini sengaja banget dicemplungin sama bapaknya -_- |
![]() |
| Kelapamuda di tengah perjalananmengarungi sungai |
![]() |
| keliatan puas bangetkan diliat dari senyumnya tika :D |
![]() |
| Udah bersih dan mandi semua, termasuk piringnya ya |
Kamis, 22 Oktober 2015
Mimpi yang Tertunda, Explore Banyuwangi
Sebenarnya saya dari dulu ngebet banget bisa plesir ke
Banyuwangi, udah sampai nulis mimpi bisa pergi ke Banyuwangi yang memang
pariwisatanya lagi berkembang. Nah, kemarin itu saya ditawarin sama Bapak buat
‘wakilin’ beliau datang silaturahim ke keluarganya bapak yang lumayan banyak
disana. Tapi, ini bukan trip dengan kelompok kecil, kemarin kita ke Banyuwangi
dengan 20 orang yang range usianya dari balita sampai lansia, jadi nggak bisa
seenaknya request pengen liburan kemana gitu..
Kita dari Solo berangkat jam 3 sore, sampai Banyuwangi
sekitar pukul 7 pagi. Langsung transit dirumah saudara lanjut silaturahim ke
tempat saudara-saudara yang lain. Disana saya kaya anak ilang, saya tidak kenal
sama sekali dengan keluarga yang disana karena memang tidak pernah bertemu
sebelumnya, budhe-budhe padahal ketemu saling berpelukan dan nangis saking
jarangnya bertemu. Alhasil, disana saya cuma main sama krucil-krucil. Hasna,
Aisyah, Rania yang umurnya berjarak cukup jauh sama saya L
Sudahi curhatnya…
Hari Minggu, 18 September kemarin saya berkesempatan
mengunjungi salah satu pantai di Banyuwangi, Pantai Boom, yang rencananya pada
tahun 2017 bisa jadi pantai marina yang standarnya seperti pantai-pantai marina
yang lain. Usaha dari pengelola pantai agaknya cukup keras, saya yakin dukungan
dari pemerintah sangat baik.
Jadi sampai disana itu saya dengar pengumuman yang
berulang-ulang tentang larangan menginjak rumput dan menghimbau agar berjalan
pada jalur yang sudah disediakan. Tempat sampah juga sudah disediakan, ini yang
jarang saya lihat di pantai. Dekorasi dan layout dari pantai sendiri sudah
lumayan oke, cuma memang masih perlu banyak perbaikan ya..
Katanya sih, sebelum pelabuhan penyeberangan ada di
Ketapang, pelabuhannya di pantai ini, memang sebelum masuk pantai ada tempat
kapal-kapal dan pemandangan yang mirip pelabuhan
Pantai ini bukan tipe pantai saya hehe, Pantai Boom pasirnya
hitam, dan lumayan kotor sama sampah plastic yang betebaran, kita juga nggak
dianjurkan berenang. Jadi ini semacam pantai buat keluarga berakhir pekan orang
tua leyeh-leyeh di kursi anak-anak main pasir atau layangan. Mungkin juga
pantai ini dipakai untuk event-event kota Banyuwangi sendiri. O iya, pantai ini
aksesnya juga mudah kok
Tapi bagaimanapun aroma pantai itu selalu harum, panasnya
pantai selalu sejuk, langitnya pantai selalu dirindu wkwkwk
Setelah dari Pantai Boom rombongan ini langsung pulang ke
Solo, alasannya nih dari tetua-tetua:
- sebagian harus sudah di kantor Senin pagi
- pengen lihat Paiton
- pengen menikmati perjalanan siang biar bisa lihat pantai sepanjang perjalanan
Ignore semua deh kecuali nomer 3, dalam hati kecilku aku
masih pengen ditinggal aja trus main sendiri. Aku juga nggak suka perjalanan
siang karena berasa lama dan lebih susah tidur. Tapi ini perjalanannya pulang
cukup terhibur sama bentangan pantainya sepanjang jalan kok :’)
Nggak papa deh, ke
Banyuwanginya nggak all out setidaknya aku bisa menambah gambar-gambar di
otakku gimana kerennya taman nasional Baluran dan monyetnya di pinggir jalan
yang kami lewati, juga plang hijau kemana arah kawah gunung Ijen. Tunggu saya
lain waktu ya Bumi Blambangan
hasna berpose dengan latar belakang pantai boom, tak lupa 'photobomb' nya sosok bapak2 baju kuning
Pulau seberang sudah daratan Bali
Pose terkejut
Selasa, 31 Maret 2015
Berani mengatakan "Aku Sholat!"
Suatu waktu sebelum adzan asar, seorang teman di kosan mengajak sholat asar berjamaah.
Sudah adzan kah? olala, belum ada adzan ini masih kurang 15 menit sebelum pukul tiga sore yang biasanya masuk asar.
Mengapa buru-buru sekali? solat asar kali ini yang berakhir dengan satu imam dan dua makmum.
Usut punya usut ketiga kawan tadi ada jadwal kuliah pukul tiga sore tepat, dan mereka tidak akan terlambat untuk itu. Mereka terkenal tepat waktu ketika berangkat kuliah, biasanya setengah jam sebelum kuliah mulai mereka sudah duduk manis dibangku kuliahnya.
Saya merasa agak miris melihat orang tidak berani mengatakan kepada manusia,
"Maaf, saya terlambat karena punya urusan dengan Tuhanku"
Saya rasa tidak ada yang berani menggugat hal tersebut bukan? Mungkin cuma orang tak berTuhan yang akan memperpanjang urusan kalimat tadi.
Jadi mengapa kita harus memajukan waktu solat untuk urusan manusia?
Saya juga punya pengalaman jadwal kuliah bentrok jadwal sholat, kalau sholat setelah selesai kuliah itu terlalu sore, nyaris maghrib. Saya biasa solat terlebih dahulu, telat kuliah 15 menit. Dosen memaklumi, adapula dosen yang menyuruh mahasiswanya solat terlebih dahulu sebelum kuliah. Menyenangkan.
Saya meyakini Allah akan mempermudah jalan hambanya ketika kita mengutamakan urusan kita denganNya. :)
Tapi akan beda cerita kalau kasusnya seperti jaman saya SMA
Kami biasa bergerombol beberapa orang untuk sholat dzuhur di musola sekolah yang cukup sempit untuk menampung ribuan anak yang sama-sama ingin sholat. Sesak sekali, dan itu menghabiskan banyak waktu. Kami pergi ke kantin untuk makan beberapa jajanan, padahal sudah jam masuk kelas, apa daya perut memang tak bisa diajak kompromi, haha
Kami masuk kelas, bawa tas mukena seperti anak alim bilang permisi ke guru yang mengajar,
"Maaf bu, terlambat habis sholat dzuhur.."
Ada guru yang memaklumi, namun ada pula yang mengomel tau tingkah kami. Mereka yang mengomel hanya mengomel tak memberi hukuman, kami hanya bicara jujur. ;)
Langganan:
Postingan (Atom)

















