Aku bertanya pada salah seorang teman lewat aplikasi chatting.
"Apakah aku terlihat galau? Aku khawatir nampak galau"
"Tidak, kamu terlihat bahagia dengan hidupmu tapi kamu kesepian"
Sepertinya dia layak menjadi cenayang atau semacamnya wkwk.
Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara, semuanya pergi merantau. Jadi di rumah layaknya anak tunggal tanpa saudara. Saya memiliki beberapa teman dekat, tapi tidak setiap hari atau setiap akhir pekan kami bertemu. Selain itu aku setiap harinya rata-rata hanya berkomunikasi dengan ortu, teman kantor, dan teman mengaji. Aku berbicara dengan orang tua sedikit di pagi hari sebelum kami sama-sama bekerja. Juga di malam hari sambil menyantap makanan dan menunggu kantuk menjemput.
Sepertinya aku memang kesepian. Haha. Bukan semacam kesepian galau ingin di jemput pangeran berkuda. Menurut analisa tanpa teoriku aku hanya kekurangan deep talk.
Nggak semua orang emang enak diajak ngobrol serius sama saja nggak semua orang bisa diajak ngomong receh. Jadi nggak ada yang bisa disalahin sih.. lha emang gak nyambung mosok mau maksa!
Tapi aku bahagia, atau untuk opsi yang menyedihkan aku mengatur otak dan tubuhku agar aku bahagia. Sehingga hal-hal kecil semacam rindu atau hanya ingin becanda bisa dialihkan ketempat lain. Aku memenuhi jadwal harianku dari pagi hingga hampir malam. Aku mengikuti berbagai kelas offline dan online (salah satunya iniii), kegiatan setelah bekerja, hingga merintis beberapa usaha. Belum lagi mengurus pekerjaan rumah tangga dan memperhatikan hewan-hewan yang kami miliki.
Manfaatkan waktu, sebelum keriput merenggut, tuli menyapa, tenaga tak ada.
Lelah, tapi asik aja karena sampai rumah bisa tidur nyeyak karena banyak beraktifitas. Insyaallah manfaat dan barokah kegiatannya. Distraksi kadang bisa jadi strategi.
Senin, 24 Juni 2019
Catatan Harian #4 Reuni
Hari ini aku ke Semarang, mengunjungi Chychy kakak kelas rasa adek yang mau wisuda. Karena Chychy tidak bisa langsung menemuiku karena dia sok sibuk banyak acara, jadi aku menemui temanku yang lain terlebih dahulu. Ayun dan Puji teman kantorku yang lama dan kebetulan mereka sama-sama di Semarang. Dari rumah naik bus, aku turun di dekat rumah Puji dan bersama dia menunggu Ayun yang sangat lama, hampir dua jam kami menunggu. Gila banget. Untung ada Mie Lidi menemani obrolan-obrolan kami.
Setelah Ayun datang, kami menuju salah satu rumah makan dengan tempat yang enak untuk mengobrol, hanya memesan minuman dan snack ringan kami mengobrol lama sampai kenyang. Waktu sudah terlalu siang, sehingga kami memutuskan untuk segera ke kampus. Untuk mengobati rasa rindu kami atas kuliner sekitar kampus (kebetulan kami jjuga dari kampus yang sama), kami menuju warung mie ayam dan bakso Pak Haris. Warungnya sekarang besar, memakai tempat yang lebih luas. Kami memesan menu nostalgia kami masing-masing. Aku nggak merasa menunya seenak dulu, mungkin bukan rasanya yang berubah. Tapi zaman kuliah dulu kami hanya sesekali makan, di tambah pula mahasiswa selalu lapar adi hampir semua makanan terasa sangat enak hehehe.
Setelah itu, karena masih ada sentimen terhadap suasana kampus aku ingin berjalan-jalan sebentar dan berfoto. Lucunya, selama di kampus nggak pernah lho dengan sengaja jalan-jalan dan berfoto, tapi setelah jadi alumni kenapa lebay gini? Waktu makin sore, aku belum juga menemui Chychy. Aku nggak bawa hadiah atau apapun, biasalah manusia minim rencana. Jadilah aku beli makanan ringan satu tas kertas penuh. Lalu kasih deh sebagai hadiah wisuda wkwk. Surat ucapannya aku buat setelah minta kertas dan pinjam bolpen dari Chychy, lalu aku selipkan di hadiahnya. Selamat wisuda Chychy!
Aku sempatkan mampir di kos lamaku, menemui adek-adek yang sekarang makin besar. Mereka yang mengenalku sebagai 'umi kos' super galak menyuruh buang sampah atau membersihkan dapur seusai piket, yang bawel soal hemat listrik dan air, yang ketat soal pergaulan dan pulang malam. Rajin-rajin belajar ya adek-adekku, insyaallah terbayar besok ketika kamu dewasa. Jangan banyak-banyak nonton oppa drama Korea, secukupnya saja hehe. Belum usai bercerita, senja memaksa kami untuk berpisah.
Masa-masa mahasiswa, dulu aku ingin segera selesai dan pergi darinya kini banyak momen yang tetap manis di kenang, bersama kalian.
Sabtu, 22 Juni 2019
Catatan Harian #3 Pelajaran Berharga
Seharian ini saya tidak nyaman di kantor. I don't know why, mungkinkah karena asap rokok di lingkungan kantor yang selama bulan Ramadhan kemarin tidak ada kini kembali. Atau mungkin aku sekedar lapar seperti biasa. Aku mengerjakan sedikit to do list yang aku rancang hari sebelumnya, dan meninggalkan sebagian sebelum suasana hatiku semakin buruk. Aku juga sedikit berbicara dengan orang lain adalah bagian dari antisipasi ledakan emosi, menjadi mudah menangis atau mudah marah ketika suasana hati sedang buruk.
Aku pulang kantor sangat tepat waktu, sebelum jam absen pulang aku terlebih dahulu merapikan pekerjaanku hari ini. Ketika waktu pulang tiba langsung absen dan berpamitan dengan yang lain. Langsung lanjut ke tempat teman-teman shalihahku berkumpul. Kita mengobrol tentang acara hari raya kemarin. Aku mendapat jatah berbicara, dan menceritakan bagaimana acara halal bi halal dan kajian tahunan yang biasa diadakan oleh keluarga besar nenek moyang tahun ini tidak dilaksanakan. Sejatinya jatah panitia adalah keturunan dari kakek-nenek ku. Tapi karena anggota keluarga kami tersebar di penjuru Indonesia, jadi hanya beberapa orang dari kami yang tersisa. Semuanya malas mengurus.
Sejujurnya sejak awal aku nggak berminat menghadapi kepanitiaan ini. Bukan karena mereka hobi kepo atau membanding-bandingkan, tapi ini benar-benar keluarga sangat besar hampir lima generasi di atasku. Sekedar merasa tersesat :)
Salah seorang teman menimpali, seharusnya aku bersyukur dikaruniai keluarga besar yang memiliki nilai yang sama dalam hal ini agama. Sehingga lebih mudah proses untuk mengamalkan atau mengekspresikan nilai-nilai agama. Aku harus merawat ukhuwah islamiyah atau persaudaraan islam yang sudah terjalin dengan baik ini. Bersyukur dengan apa yang kita miliki ketika keluarga lain ada yang saling mendengki dan membenci. Menjaga apa yang sudah Allah beri sementara teman kita dijauhi keluarga besarnya karena menganut nilai yang berbeda.
Bersaudara itu berjuang, berjuang untuk memahami dan melapangkan hati, berjuang memastikan kita menyemai kebaikan pada ladang keluarga.
Aku pulang kerumah dengan hati yang lebih baik. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang menggunung. Menyeduh kopi, lalu menuliskan ini.
Aku pulang kantor sangat tepat waktu, sebelum jam absen pulang aku terlebih dahulu merapikan pekerjaanku hari ini. Ketika waktu pulang tiba langsung absen dan berpamitan dengan yang lain. Langsung lanjut ke tempat teman-teman shalihahku berkumpul. Kita mengobrol tentang acara hari raya kemarin. Aku mendapat jatah berbicara, dan menceritakan bagaimana acara halal bi halal dan kajian tahunan yang biasa diadakan oleh keluarga besar nenek moyang tahun ini tidak dilaksanakan. Sejatinya jatah panitia adalah keturunan dari kakek-nenek ku. Tapi karena anggota keluarga kami tersebar di penjuru Indonesia, jadi hanya beberapa orang dari kami yang tersisa. Semuanya malas mengurus.
Sejujurnya sejak awal aku nggak berminat menghadapi kepanitiaan ini. Bukan karena mereka hobi kepo atau membanding-bandingkan, tapi ini benar-benar keluarga sangat besar hampir lima generasi di atasku. Sekedar merasa tersesat :)
Salah seorang teman menimpali, seharusnya aku bersyukur dikaruniai keluarga besar yang memiliki nilai yang sama dalam hal ini agama. Sehingga lebih mudah proses untuk mengamalkan atau mengekspresikan nilai-nilai agama. Aku harus merawat ukhuwah islamiyah atau persaudaraan islam yang sudah terjalin dengan baik ini. Bersyukur dengan apa yang kita miliki ketika keluarga lain ada yang saling mendengki dan membenci. Menjaga apa yang sudah Allah beri sementara teman kita dijauhi keluarga besarnya karena menganut nilai yang berbeda.
Bersaudara itu berjuang, berjuang untuk memahami dan melapangkan hati, berjuang memastikan kita menyemai kebaikan pada ladang keluarga.
Aku pulang kerumah dengan hati yang lebih baik. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang menggunung. Menyeduh kopi, lalu menuliskan ini.
Jumat, 21 Juni 2019
Catatan Harian #2 Drama Perhewanan
Permasalahan di hidupku sepertinya seputar hewan-hewan peliharaan saja. Hari ini seekor induk ayam bernama Batik menolak mengasuh salah satu anaknya yang baru menetas. Layaknya bayi ayam pada umumnya dia tidak akan bertahan tanpa induknya, entah mati dimangsa predator atau mati kedinginan. Aku ambilah anak ayam ini dan membawanya masuk rumah. Dia sekarang sudah tidur, setelah hampir dua jam ciap-ciap mencari teman. Sebelumnya aku memasang bohlam lampu untuk menjaganya tetap hangat. Tapi cahaya bohlam membuat ayam tak kunjung tidur mengira ini masih siang. Matikan sajalah bohlamnya, masalah malam ini selesai. Semoga anak ayam terlantar ini masih bisa hidup sampai tua dan bosan bertelur untuk kami.
Oh iya, hari sebelum ini saya akhirnya membulatkan tekad untuk membawa Desta berobat. Tapi karena alat terbatas dokter hewan hanya melakukan pemeriksaan fisik pada benjolan. Selama masih makan dan tidak mengganggu aktifitas insyaallah aman. Setelah iitu dia berjanji akan mempelajari kasus ini terlebih dahulu dan akan memberi tahu via aplikasi chatting online. Wah aku merasa cocok sekali, karena pelayanan maksimal dan pelayanan pasca pembelian yang oke. Yha walaaupun aku menemukannya lewat keyword dokter hewan solo murah.
Lusa aku ke Semarang tempat aku menggali ilmu di perguruan tinggi. Temanku wisuda pekan depan, tapi saat itu aku masuk kerja dan belum bisa cuti. Tapi sepertinya aku lebih merindukan kuliner kampus dibandingkan si wisudawati ini hahaha
Oh iya, hari sebelum ini saya akhirnya membulatkan tekad untuk membawa Desta berobat. Tapi karena alat terbatas dokter hewan hanya melakukan pemeriksaan fisik pada benjolan. Selama masih makan dan tidak mengganggu aktifitas insyaallah aman. Setelah iitu dia berjanji akan mempelajari kasus ini terlebih dahulu dan akan memberi tahu via aplikasi chatting online. Wah aku merasa cocok sekali, karena pelayanan maksimal dan pelayanan pasca pembelian yang oke. Yha walaaupun aku menemukannya lewat keyword dokter hewan solo murah.
Lusa aku ke Semarang tempat aku menggali ilmu di perguruan tinggi. Temanku wisuda pekan depan, tapi saat itu aku masuk kerja dan belum bisa cuti. Tapi sepertinya aku lebih merindukan kuliner kampus dibandingkan si wisudawati ini hahaha
Kamis, 20 Juni 2019
Catatan Harian #1 Asuransi untuk Desta
Berangkat kantor pagi ini nggak semangat. My mini pocket pet alias sugar glider ku Si Desta sakitnya makin parah. Bengkak di bawah rahangnya makin besar saja seperti akan meletus. Sedih sekali, sementara aku masih menanggulangi dengan tips-tips diet untuk sugar glider yang aku dapat dari grup-grup Facebook untuk pecinta sugar glider agar bengkaknya tidak makin besar. Beberapa hari terakhir Desta dan koloninya hanya memakan buah, sayur, dan sedikit madu tanpa serangga dan bubur bayi kesukaan mereka.
Kembali di kursi kantor yang keras, aku menjejali mesin pencari dengan keyword untuk menemukan apa sebenarnya yang diderita bayiku ini. Pakai Google Scholar dong, biar lebih meyakinkan wkwk. Jadi aku berharap artikel yang aku temukan bukan sekedar artikel-artikel blog modal copy paste :). Pas ketemu artikel yang cukup menarik tentang lumpy jaw, aku baru sadar tentu saja aku nggak bisa akses gratis. Aku tidak mengakses lewat wifi kampus, lupa sekarang bukan mahasiswa fakir wifi yang berebut jaringan di selasar gedung-gedung kampus. Ya sudah, aku menyelesaikan pencarianku dengan kalimat 'dokter hewan murah solo' lalu mantap memilih salah satu.
Walaupun aku bukan lagi mahasiswa fakir kuota aku masih mempertimbangkan biaya-biaya yang mungkin timbul dari berobatnya Si Desta. Apa tidak ada asuransi untuk anabul juga ya? Kalau ada boleh deh ikutan. Permasalahannya anggaran pengeluaran untuk hedon dan kebutuhan bulananku kali ini banyak lenyap di warung kopi fancy sampai lesehan tengah malam. Aku terlalu sering kumpul sama teman dan saudara pasca hari raya kemarin. Tapi suka, ya gimana dong. Jadi salah siapa nggak disiplin sama aturan sendiri?
Kembali di kursi kantor yang keras, aku menjejali mesin pencari dengan keyword untuk menemukan apa sebenarnya yang diderita bayiku ini. Pakai Google Scholar dong, biar lebih meyakinkan wkwk. Jadi aku berharap artikel yang aku temukan bukan sekedar artikel-artikel blog modal copy paste :). Pas ketemu artikel yang cukup menarik tentang lumpy jaw, aku baru sadar tentu saja aku nggak bisa akses gratis. Aku tidak mengakses lewat wifi kampus, lupa sekarang bukan mahasiswa fakir wifi yang berebut jaringan di selasar gedung-gedung kampus. Ya sudah, aku menyelesaikan pencarianku dengan kalimat 'dokter hewan murah solo' lalu mantap memilih salah satu.
Walaupun aku bukan lagi mahasiswa fakir kuota aku masih mempertimbangkan biaya-biaya yang mungkin timbul dari berobatnya Si Desta. Apa tidak ada asuransi untuk anabul juga ya? Kalau ada boleh deh ikutan. Permasalahannya anggaran pengeluaran untuk hedon dan kebutuhan bulananku kali ini banyak lenyap di warung kopi fancy sampai lesehan tengah malam. Aku terlalu sering kumpul sama teman dan saudara pasca hari raya kemarin. Tapi suka, ya gimana dong. Jadi salah siapa nggak disiplin sama aturan sendiri?
Senin, 31 Desember 2018
Memulai Zero Food Waste
Semua dimulai dari masa kanak-kanak dengan memori makan memakan yang nggak saya sukai. Sebelum saya masuk masa puber, perihal makanan itu seingat saya nggak ada yang nikmat. Nggak enak dan memakan waktu yang super lama. Saya tidak diperbolehkan berangkat sekolah tanpa sarapan dan menghabiskan sarapan, lebih baik terlambat sekolah daripada makanan tidak habis. Tidak pilah-pilih makanan, kami empat bersaudara 'terpaksa' memakan apapun yang sudah disediakan, adakalanya request lauk dan sayur berlaku, tapi ya seringnya tidak. Dulu kalau kita menolak makan hampir pasti sama ibu dibacakan buku tentang kelaparan di Afrika, pas gambar anak kena marasmus, perut buncit, kulit bersisik, rambut tipis, wajah tidak bercahaya, dan ekspresi rengekan semua itu menghujam kuat di memori kami. Saya dulu nggak terlalu paham kenapa soal makan saja begitu runyam, padahal banyak teman-teman yang oke-oke aja bekal makan nggak habis, kalau aku ya siap-siap suruh bertanggung jawab ngabisin sampai rumah.
![]() |
| Marasmus |
Setelah aku lebih bisa mikir didikan orangtua yang keras tentang bagaimana memperlakukan makanan membuahkan hasil, kebiasaan menghabiskan makanan, hanya mengambil makanan benar-benar akan dimakan, cenderung tidak lapar mata, dan bertanggung jawab terhadap makanan yang dipilihnya.
![]() |
| Lontong Kupang |
Contohnya kaya makanan di atas, waktu main ke Malang sarapan lontong kupang di warung pinggir jalan yang dipilih random tidak tau masakan warung tersebut enak atau tidak. Aku nggak pernah makan sebelumnya dan belum tau bentuknya seperti apa. Karena penasaran, yowis pilih menu itu. Ternyata makanannya sangat tidak sesuai seleraku, dan kupang (kerang kecil) tidak dibersihkan dengan baik, sulit rasanya menelan lontong kuah bening dengan kupang rebus dan bumbu minimalis. Tapi tak paksa habiskan biar nggak terbuang, saudara laki-lakiku juga berpikir demikian. Untung teh nya enak :)
Bayangkan kalau lontong tadi cuma saya makan satu suap lalu saya menyerah, mungkin kuah dan kupang-kupang berakhir di saluran pembuangan air, lontong padat yang lebih beruntung akan dimakan ayam, kalau tidak ya masuk tempat sampah begitu saja. Berapa kerugian dan kesia-siaan dari sepiring lontong kupang? Dari nelayan kupang, petani beras, bahan bakar untuk distribusi, bahan bakar untuk memasak, bumbu, air, dst. Belum lagi orang-orang kelaparan diluar sana yang nggak mampu beli makanan.
Tidak semua orang bisa menikmati makanan yang layak seperti yang kita makan. Di bumi bagian lain masih ada korban-korban perang yang tidak makan berhari-hari karena tidak ada suplai makanan, atau mungkin bapak-bapak penjual asongan pinggir jalan yang tertidur sambil menahan lapar. Bersyukurlah dengan makanan layak makan yang terhidang di piring adalah keharusan, di Filipina ada orang-orang yang mendaur ulang sampah fast food menjadi makanan kegemaran mereka. Simak video dibawah ya..
Nggak usah jauh-jauh ke negeri tetangga, anak bangsa kita masih ada yang terkena gizi buruk. Di zaman yang teknologi berkembang sungguh pesat, segalanya terasa mudah dan instan banyak anak-anak di negeri yang kaya ini kelaparan akibat kemiskinan. Suka sedih kalau bahas kaya gini, sekedar makan banyak saudara kita yang kesulitan, kerja keras pendapatan tak seberapa untuk kebutuhan hidup yang menghimpit jadi urusan gizi dan kenyang menjadi nomor kesekian bagi sebagian orang :(
Anak bangsa terkena gizi buruk
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180418144828-106-291739/pbb-sebut-kasus-gizi-buruk-di-asmat-papua-insiden-tragis
Itu artikel di Papua yamg notabene akses memang susah, fasilitas terbatas, kurang dapat perhatian, jauh dari pusat pemerintahan, tapiii di tanah Jawa juga banyak kan? Anak-anak jalanan, anak-anak nelayan yang miskin :(
Syukuri apa yang kita dapatkan, termasuk sepiring atau berpiring-piring makanan yang terhidang untuk kita. Syukuri dengan cara habiskan makanan kita, bayangkan kalau anak-anak lapar tadi melihat piring penuh makanan kita masuk begitu saja ke tong sampah. Bayangkan petani yang lapar, melihat bulir-bulir beras yang disia-siakan. Bayangkan nelayan yang menggadaikan nyawa melihat hasil tangkapannya dibuang percuma.
Bertanggung jawab sama makanan yang sudah kita ambil, kalau nggak kuat makan banyak ya jangan ambil banyak. Kalau emang porsi yang terhidang banyak, mungkin kamu bisa sharing sama temenmu yang kuat makan banyak, atau paling aman ya biasakan dirimu! Jangan kemaruk, lihat makanan banyak menggiurkan semuanya diambil, padahal nggak bisa ngabisin kalau gitu bisa dibilang malu-maluin!
Yuk belajar bareng nggak buang-buang makanan!
Yuk belajar bareng nggak buang-buang makanan!
Roti-roti wangi di etalase kaca mungkin cuma jadi properti di feeds intagrammu, tapi ceceran remahnya bisa jadi penyambung mimpi makhluk kecil yang menahan lapar.
Minggu, 04 September 2016
International Hijab Solidarity Day, Kita Bicara di Indonesia
International Hijab Solidarity Day (IHSD) yang jatuh pada tanggal 4 September merupakan hari peringatan kepada para muslimah, bahwa banyak saudara-saudara muslimah kita dibelahan bumi yang lain tidak bisa memakai jilbabnya dengan tenang, ada larangan dari pemerintah, ada pandangan yang buruk terhadap perempuan berjilbab, dll.
Alhamdulillah, di Indonesia kita tercinta dengan ragam budaya sudah ramah dengan jilbab sendiri. Polisi wanita, karyawan biasa, siswi SMA, pegawai negeri, sudah banyak yang berjilbab. Tapi tau nggak sih, di balik itu semua ada perjuangan para pendahulu yang memperjuangkan helai kain penutup kepala ini.
Pada saat itu peraturan tentang seragam sekolah masih kaku, jilbab tidak sesuai dengan seragam sekolah, ia dianggap merupakan lambang dari kelompok politik atau gerakan tertentu yang akan mengganggu stabilitas politik dan ekonomi yang sedang diprogram pemerintah. Pada saat itu siswi berjilbab banyak menjadi korban karena tidak diperbolehkannya jilbab, bisa dipindah sekolah, skors, atau 'cuma' sindiran. Pada '90an pemakai jilbab di instusi pendidikan sudah mulai marak, namun beberapa halangan masih ada seperti dilarang memakai jilbab atau harus menampakkan telinga ketika foto ijazah. Karena ancaman susah mendapat perguruan tinggi atau susah mendapat pekerjaan, ada yang akhirnya ada tidak berjilbab ketika berfoto. Mendaftar pekerjaanpun membutuhkan kekuatan iman dan mental bagi pemakai jilbab, tentu saja banyak penolakan atau perintah melepas jilbab jika ingin bergabung di perusahaan ini itu.
Kalau dilihat di Indonesia saat ini, walaupun masih ada institusi yang tidak memperbolehkan jilbab, tapi secara umum sudah lebih baik daripada tahun-tahun yang lalu. Kalau udah ada lingkungan yang mendukung, pekerjaan mendukung jilbab, jilbab dengan berbagai bahan dan cara pakai masihkah ada alasan untuk nggak belajar pakai jilbab dengan benar?
Alhamdulillah, saya merasakan mudahnya memakai jilbab sekarang ini. Bahkan ketika foto ijazahpun, jilbab yang saya pakai masih bisa mengulur, bukan yang dililit di leher. Di Olimpiade Rio 2016 kemarin bahkan ada atlet yang berani berhijab.
Ketika kita di beri keleluasaan untuk berjilbab, #YukBerhijab dan jangan lupa beri dukungan terhadap saudara-saudara kita yang belum bisa berjilbab dengan terus menebar kebaikan, membuktikan bahwa Islam adalah agama yang damai dan penuh rahmat. Semoga jilbab menjadi hal yang akrab dan diterima dimanapun ya..
Nb. Tulisan ini bersumber dari bacaan penulis dan pengalaman pribadi :)
Alhamdulillah, di Indonesia kita tercinta dengan ragam budaya sudah ramah dengan jilbab sendiri. Polisi wanita, karyawan biasa, siswi SMA, pegawai negeri, sudah banyak yang berjilbab. Tapi tau nggak sih, di balik itu semua ada perjuangan para pendahulu yang memperjuangkan helai kain penutup kepala ini.
Pada saat itu peraturan tentang seragam sekolah masih kaku, jilbab tidak sesuai dengan seragam sekolah, ia dianggap merupakan lambang dari kelompok politik atau gerakan tertentu yang akan mengganggu stabilitas politik dan ekonomi yang sedang diprogram pemerintah. Pada saat itu siswi berjilbab banyak menjadi korban karena tidak diperbolehkannya jilbab, bisa dipindah sekolah, skors, atau 'cuma' sindiran. Pada '90an pemakai jilbab di instusi pendidikan sudah mulai marak, namun beberapa halangan masih ada seperti dilarang memakai jilbab atau harus menampakkan telinga ketika foto ijazah. Karena ancaman susah mendapat perguruan tinggi atau susah mendapat pekerjaan, ada yang akhirnya ada tidak berjilbab ketika berfoto. Mendaftar pekerjaanpun membutuhkan kekuatan iman dan mental bagi pemakai jilbab, tentu saja banyak penolakan atau perintah melepas jilbab jika ingin bergabung di perusahaan ini itu.
Kalau dilihat di Indonesia saat ini, walaupun masih ada institusi yang tidak memperbolehkan jilbab, tapi secara umum sudah lebih baik daripada tahun-tahun yang lalu. Kalau udah ada lingkungan yang mendukung, pekerjaan mendukung jilbab, jilbab dengan berbagai bahan dan cara pakai masihkah ada alasan untuk nggak belajar pakai jilbab dengan benar?
Alhamdulillah, saya merasakan mudahnya memakai jilbab sekarang ini. Bahkan ketika foto ijazahpun, jilbab yang saya pakai masih bisa mengulur, bukan yang dililit di leher. Di Olimpiade Rio 2016 kemarin bahkan ada atlet yang berani berhijab.
Ketika kita di beri keleluasaan untuk berjilbab, #YukBerhijab dan jangan lupa beri dukungan terhadap saudara-saudara kita yang belum bisa berjilbab dengan terus menebar kebaikan, membuktikan bahwa Islam adalah agama yang damai dan penuh rahmat. Semoga jilbab menjadi hal yang akrab dan diterima dimanapun ya..
Nb. Tulisan ini bersumber dari bacaan penulis dan pengalaman pribadi :)
Langganan:
Postingan (Atom)

